Toraja Blog – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kabupaten Tana Toraja berlangsung meriah di Pasar Seni Makale, Jumat–Sabtu (10–11 Oktober 2025). Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) se-Tana Toraja.

FTBI merupakan wadah bagi generasi muda untuk menunjukkan kecintaan terhadap bahasa daerah sekaligus melestarikan nilai-nilai kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat Toraja. Suasana Pasar Seni Makale dipenuhi semangat kebudayaan, dengan ragam penampilan bernuansa Toraja yang membangkitkan rasa bangga terhadap warisan leluhur.
Dibuka Langsung oleh Bupati Tana Toraja
Bupati Tana Toraja, dr. Zadrak Tombeg, Sp.A, secara resmi membuka pelaksanaan festival. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya melestarikan bahasa daerah agar tidak punah di tengah derasnya arus globalisasi.
“Bahasa adalah jiwa dari kebudayaan. Melalui FTBI ini, kita mengajarkan kepada generasi muda untuk bangga berbahasa Toraja, karena di sanalah identitas dan nilai luhur kita berada,” ujar Zadrak disambut tepuk tangan peserta.
Ia juga mengapresiasi Dinas Pendidikan (Diknas) Tana Toraja yang telah menginisiasi kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap program pelestarian bahasa daerah yang dicanangkan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Baca Juga : Keren ..Ukiran Toraja Mengisnpirasi Otomotif Dunia
Beragam Lomba dengan Bahasa Daerah Toraja
Selama dua hari pelaksanaan, peserta FTBI tampil dalam berbagai kategori lomba seperti Pidato, Cerpen, Ulelean Pare (bercerita tradisional), dan Komedi — semuanya menggunakan bahasa daerah Toraja. Para siswa menunjukkan kemampuan mereka tidak hanya dalam berbahasa, tetapi juga dalam memahami konteks budaya yang terkandung di balik setiap tuturan.
Menurut panitia, lomba ini dirancang agar siswa semakin terbiasa menggunakan bahasa daerah dalam keseharian, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah, sehingga bahasa Toraja tetap hidup di tengah masyarakat.
Membangun Generasi Bangga Berbahasa Daerah
Kepala Dinas Pendidikan Tana Toraja menyebutkan, FTBI menjadi momentum penting untuk menanamkan rasa bangga terhadap bahasa ibu. “Anak-anak perlu menyadari bahwa bahasa Toraja bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga warisan budaya yang harus dijaga,” ujarnya.
Selain kompetisi, kegiatan juga diisi dengan penampilan seni dan pameran karya pelajar yang mengangkat tema kearifan lokal.
Festival pun ditutup dengan penuh sukacita, menegaskan komitmen bersama untuk menjaga bahasa dan budaya Toraja tetap hidup, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

















